skip to Main Content
admin@sirohnabawiyah.com

Kenabian dan Masa di Mekah

Sebelum masa kenabian, Rasulullah SAW, telah memperoleh gelar al-Amin (yang terpercaya). Ketika beberapa kabilah berseteru keras untuk meletakkan Hajar Aswad di tempatnya (setelah pembangunan kembali Ka’bah), Rasulullah SAW berhasil menengahi keadaan dengan sangat baik.

Pada masa-masa menjelang turunnya wahyu, Rasulullah SAW merasa semakin gelisah dengan kejahiliyahan kaumnya. Beliau pun mulai sering ber-uzlah ke gua Hira sampai akhirnya menerima wahyu dari Malaikat Jibril as.

  •  
  •  
  •  
  •  
  • Diangkat Menjadi Nabi

    Ketika usia 40 Tahun ketika Muhammad S.A.W sedang melakukan kontemplasi atau berkholwat di gua Hiro datanglah Malaikat Jibril membawa wahyu dari Allah untuk yang pertama kalinya. "Iqro’ Bismi Robbikal Ladzi Kholaq", “Bacalah dengan Nama Tuhanmu yang menciptakanmu”. Muhammad S.A.W menjawab “Ma Ana Bi Qori,in”; “Saya Tidak Dapat Membaca” dilakukan sampai berulang kali sampai akhir Surat Al-Alaq (surat Al- A1aq 95: 1-5).
  • Dakwah di Mekah

    Tujuan dakwah Rasulullah SAW pada periode Mekah adalah agar masyarakat Arab meninggalkan kejahiliyahannya di bidang agama, moral dan hokum, sehingga menjadi umat yang meyakini kebenaran kerasulan nabi Muhammad SAW dan ajaran Islam yang disampaikannya, kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
  • Hijrah ke Madinah

    Kepiawaian Rasulullah menempatkan potensi para sahabat. Beliau tidak pernah keliru menempatkan pada posisi sehingga tersalahgunakan atau membuat sahabat menolak karena ketidaksiapan. Rasulullah selalu mengoptimalkan potensi para sahabatnya di ruang dan waktu yang tepat.
  • Sejarah Ka’bah

    Nabi Ibrahim shallallahu ‘alahi wa sallam telah meninggikan Ka’bah al Musyarrafah atas perintah Allah, bangunannya dari batu, tingginya 9 hasta (4,5m), panjangnya dari arah timur 32 hasta (16 m), dari arah barat 31 hasta (15,5m), dad arah selatan 20 hasta (10m) clan dari arah selatan 22 hasta (11m). Ka’bah Yang ditinggikan Oleh Nabi Ibrahim Dia tidak membuat atap untuk Ka’bah, dia membuka dua pintu yang sejajar dengan tanah tanpa ada daun pintu yang menutup, dan membangun di utaranya anjang-anjang sebagai kandang untuk kambing Ismail, yaitu yang disebut dengan Hijir, dan malaikat Jibril ‘alaihissalam turun dengan Hajar Aswad dan Ibrahim meletakkannya di tempatnya.
Back To Top